Agar UKM Tak Tertinggal Laju ‘Kereta’ Ekonomi Internet

by Admin, Mei 15, 2017

Beberapa tahun lalu, siapa yang akan membayangkan bahwa aplikasi ponsel pintar bisa membantu tukang ojek hingga pedagang bakso dan ketoprak di pinggir jalan untuk mencari nafkah. Lalu beberapa waktu lalu, asisten rumah tangga penulis bisa dengan cepat dan cekatan membeli obat untuk penghuni rumah yang sedang sakit, juga dengan bantuan aplikasi ponsel.

Internet telah mengubah bagaimana kita hidup hari ini. Dalam konteks perekonomian, internet telah mengubah bagaimana proses produksi, konsumsi dan distribusi dilakukan. Lahirlah apa yang disebut dengan ‘ekonomi internet’, yaitu nilai tambah dalam perekonomian yang lahir dari aktivitas yang berhubungan dengan pemanfaatan jaringan internet.

 

Laju Ekonomi Internet Kita

Saat berbicara dalam konferensi ASEAN-US Summit yang baru saja berlangsung di California, Amerika Serikat, Presiden Jokowi memaparkan besarnya potensi ekonomi internet ini di depan para peserta konferensi. Salah satu indikator yang diangkat oleh Jokowi adalah nilai transaksi perdagangan daring atau e-commerce di Tanah Air yang dalam beberapa tahun belakangan menunjukkan tren pertumbuhan positif. Tren ini juga diprediksi masih akan berlanjut pada 2016 dan membuat nilai transaksi e-commerce kita akan mencapai Rp 331,9 triliun atau setara dengan sekitar 24,6 miliar dolar AS.

Untuk memberikan konteks pada angka ini, 24,6 miliar dolar AS merepresentasikan 2,77 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia (berdasarkan data PDB terakhir Bank Dunia yang terakhir kali diperbarui pada 29 Desember 2015). Ini sepintas terlihat kecil, tapi merujuk pada laporan Boston Consulting Group (BCG) yang berjudul “The Internet Economy in the G-20”, nilainya pada 2010 baru berkisar di angka 1,3 persen. Dengan kata lain bila prediksi ini terbukti, akan ada pertumbuhan positif lebih dari dua kali lipat. Kita sudah ada di jalur yang benar. Belum lagi jika bicara tentang potensi pasar Indonesia: 88 juta pengguna internet, 95,8 juta pengguna ponsel pintar dan 31 persen tingkat penetrasi internet (data eMarketer).

 

Saatnya Membangun Jembatan untuk UKM

Pertanyaannya kemudian, bagaimana caranya agar ‘kereta cepat’ bernama ekonomi internet ini dalam perjalanannya menuju pertumbuhan dapat semakin banyak membawa serta pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM). Hal ini menjadi penting karena mereka nyata-nyata adalah tulang punggung perekonomian kita. Majunya sektor UKM akan berdampak langsung terhadap peningkatan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat, begitu pula sebaliknya.

Belum lama ini, dalam kapasitas sebagai anggota Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN), penulis bersama para anggota KEIN yang lain datang ke Kementerian Koperasi dan UKM kita untuk berdiskusi dan bertukar pikiran. Pihak kementerian memaparkan data bahwa sektor UKM hari ini menyumbang lebih dari separuh PDB dan 95 persen lapangan pekerjaan di Indonesia.

Mempertimbangkan hal ini, negara harus hadir dan membangun “jembatan” di antara dua menara ini-potensi ekonomi internet dan sektor UKM kita-agar pada gilirannya, pertumbuhan ekonomi internet dapat memberikan dampak yang positif bagi sektor UKM di Tanah Air. Layaknya jembatan pada umumnya, jembatan ini juga terdiri dari dua sisi. Di satu sisi, pemerintah harus membangun diskusi dengan berbagai platform e-commerce yang beroperasi di Indonesia, termasuk yang dimiliki oleh investor asing. Jadikan platform-platform ini agen pemerintah untuk menjangkau para pelaku UKM di berbagai pelosok dan membawa bisnis mereka bermigrasi ke ranah digital.

Tentu saja, pemerintah harus memberikan insentif yang memadai sebagai imbal hasil. Konkretnya ini misalnya bisa berupa potongan pajak dengan besaran tertentu ketika dalam sebuah platform e-commerce, sekian persen merchant-nya dapat dikategorikan sebagai UKM. Di sisi lain, para pelaku UKM juga harus diberdayakan agar siap untuk mengintegrasikan potensi internet-dari peningkatan konektivitas hingga akses ke sumber informasi yang kaya-dalam model bisnisnya dan mengambil keuntungan yang optimal dari proses tersebut. Pemerintah tidak mungkin mengerjakan ini sendirian. Libatkan komunitas UKM, ahli dengan bidang kepakaran yang relevan hingga investor dan para pemilik platform e-commerce itu sendiri. Agar dapat berfungsi dengan baik, jembatan ini harus ditopang oleh tiang yang kokoh. Pemerintah harus mulai memikirkan tentang bagaimana menekan biaya jaringan internet. Bisa dengan inovasi seperti Proyek Loon atau dengan menciptakan skema insentif tertentu untuk operator selular.

Pasar juga harus dipersiapkan. Akan percuma ketika para pelaku UKM kita sudah semakin eksis di berbagai platform daring, tapi konsumen domestik malah lebih senang dan bangga menggunakan barang dari produsen asing. Tentu hal ini bukan dilakukan dengan menerapkan kebijakan-kebijakan yang proteksionis. Yang harus menjadi fokus pemerintah adalah sungguh-sungguh memberdayakan sektor UKM kita agar daya saingnya meningkat. Sementara itu, konsumen kita juga harus diberi edukasi dengan berbagai metode yang kreatif dan inovatif untuk menumbuhkan kecintaan mereka terhadap produk dalam negeri. Pada intinya, kembali ke konsep jembatan itu sendiri, pemerintah harus mengambil posisi sebagai penghubung, pemberdaya dan pencipta kolaborasi. Jangan sibuk membangun menara sendiri.

Ada banyak jalan menuju Roma, dan Roma tidak dibangun dalam semalam. Ada berbagai opsi kebijakan yang layak dan harus mulai diuji coba serta divalidasi oleh pemerintah untuk membangun jembatan ini. Semuanya membutuhkan proses dan kerja keras yang panjang. Perjalanannya memang masih jauh. Tapi sejauh apapun, mari kita mulai mengambil langkah pertama, sekarang juga.

 

Irfan Wahid

Anggota Dewan Penasihat KADIN dan Komite Ekonomi Industri Nasional (KEIN)

No Comments


Leave a Reply

Your email address will not be published Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*