Unlocking Indonesia Potential: Optimizing People Capital As Growth Driver In Digital Business

Unlocking Indonesia Potential: Optimizing People Capital As Growth Driver In Digital Business

by Admin, Mei 15, 2014

Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) berdiskusi dengan stakeholder yang terlibat di dalam industri aplikasi dan games yang terdiri atas publisher, developer, venture capital, dan akademisi untuk mengkaji potensi dan hambatan yang terdapat dalam sektor kreatif ini. Hasil kajian ini sangat penting dalam penyusunan policy memo sektor terkait dan penulisan roadmap industri kreatif 2045.

“Indonesia seharusnya bisa memanfaatkan peluang dengan besarnya pasar dan masifnya pertumbuhan penggunaan smartphone dan internet. Permasalahannya saat ini kita belum mampu mengkapitalisasi pasar secara maksimal. Hambatan yang masih ada dalam industri ini sudah saatnya harus dikikis satu per satu” ujar Ketua Pokja Industri Kreatif KEIN, Irfan Wahid.

Laporan lembaga analisis App Annie 2017 menyebutkan bahwa hingga kuartal pertama 2017 pengguna aplikasi di Indonesia sudah menghabiskan waktu hampir 1.7 miliar jam. Penduduk Indonesia rata-rata menggunakan 40 aplikasi per bulan, dan hampir sekitar 78 aplikasi diunduh ke dalam ponsel. Dari angka tersebut, rata-rata 11 aplikasi digunakan setiap harinya. Sedikit lebih tinggi dari rata-rata global.

Dengan tingkat populasi sebesar 262 juta penduduk dan angka mobile subscription mencapai 371.4 juta orang (We Are Social, 2017), Indonesia memiliki pasar yang sangat potensial untuk dimanfaatkan. Indonesia harus bisa memformulasikan cara yang tepat dalam memanfaatkan pasar yang begitu besar tersebut menjadi sebuah keuntungan yang akan bisa membawa negara ini satu langkah lebih maju. Namun, hingga saat ini Indonesia hanya menjadi pasar bagi mobile application dan software-software luar negeri yang membludak jumlahnya.

Irfan Wahid menggarisbawahi beberapa isu penting yang masih menjadi hambatan tumbuh kembangnya industri ini.

“Perijinan masih menjadi masalah klasik di negeri ini, tidak terkecuali apa yang dialami oleh para developer games. Selain itu, proses pendaftaran Intelectual Property Rights (IPR) yang membutuhkan waktu lama membuat banyak pemain lokal tidak mendaftarkan produk atau hak ciptanya. IPR juga saat ini belum bisa menjadi collateral bagi sektor perbankan ketika para developer mengajukan pinjaman dana. Tentunya hal ini sangat disayangkan mengingat sektor ini merupakan salah satu bentuk adanya perubahan business model dalam industri saat ini. Alhasil, banyak dari para developer yang kesulitan dalam mencari pendanaan”, jelas Irfan Wahid.

“Permasalahan lain yang tidak kalah penting adalah belum adanya talent pool yang bisa menjadi wadah dalam mengumpulkan para talent berbakat di sektor kreatif ini. Selain itu, banyak dari para developer games yang masih belum mengerti cara memasarkan produknya dengan baik sehingga hal ini juga akan menghambat mereka dalam proses monetisasi”, tambah Irfan Wahid.

Saat ini, Indonesia tidak bisa membendung banyaknya developer games luar negeri yang memasarkan produknya di negeri ini. Perkembangan informasi dan teknologi yang semakin pesat membuat pertumbuhan dari sektor kreatif ini akan terus bergerak ke arah yang tidak bisa diprediksi. Pemerintah saat ini sudah seharusnya bisa merelaksasi beberapa regulasi serta menyediakan government assistance bagi perkembangan sektor kreatif ini.

“Kita tidak bisa menghalang banyaknya pemain asing yang masuk. Kita harus mencari cara agar kita tidak menjadi pihak yang dirugikan dengan kehadiran mereka. Salah satunya adalah dengan kolaborasi antara developer luar negeri dan lokal. Kuncinya adalah transfer knowledge”, pungkas Irfan Wahid.

Kedepannya, dibutuhkan formulasi regulasi yang tepat dalam memastikan pemanfaatan dari potensi besar yang dimiliki bangsa ini dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Butuh keterlibatan dari semua pihak untuk bersama-sama memajukan sektor kreatif ini.

16 November 2017

Hotel Grand Kemang, Jakarta

Irfan Wahid

Ketua Kelompok Kerja Industri Kreatif Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN)

No Comments


Leave a Reply

Your email address will not be published Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*